Menggali Pesimisme Schopenhauer dan Relevansinya Dengan Antinatalisme

Arthur Schopenhauer


Dalam artikel kali ini, penulis ingin menjelaskan mengapa memilih untuk membahas filsuf Jerman yang dikenal dengan pandangan pesimistisnya, Arthur Schopenhauer, dan bagaimana pandangannya bisa dijadikan dasar untuk mendukung antinatalisme. Meskipun kita tidak mengidentifikasikan sebagai seorang antinatalis, tapi percaya bahwa pandangan Schopenhauer tentang penderitaan dan eksistensi manusia memberikan perspektif yang kuat untuk mempertimbangkan argumen antinatalisme. 


Schopenhauer: Filsuf Pesimis dan Atheis

Arthur Schopenhauer, seorang filsuf Jerman abad ke-19, dikenal karena pandangannya yang sangat pesimistis tentang kehidupan. Berbeda dengan banyak filsuf Barat sebelumnya yang mendukung eksistensi Tuhan dan menganggap kehidupan sebagai ciptaan yang baik, Schopenhauer mengemukakan pandangan yang gelap mengenai eksistensi manusia. Ia melihat kehidupan sebagai sumber penderitaan yang tidak ada habisnya dan menganggap bahwa seluruh eksistensi didorong oleh dorongan buta yang disebut "will" (kehendak).

Schopenhauer berargumen bahwa hampir semua filsuf sebelumnya, kecuali David Hume, percaya pada Tuhan dan mendalihkan Tuhan di balik fenomena kehidupan. Mereka menganggap bahwa Tuhan telah menciptakan dunia dengan baik, seperti Leibniz yang meyakini bahwa Tuhan menciptakan dunia yang terbaik dari yang mungkin. Namun, Schopenhauer memutuskan pandangan ini dengan ajaran yang menilai eksistensi sebagai sumber penderitaan.


Konsep "Will" dalam Pandangan Schopenhauer

Dalam pandangan Schopenhauer, "will" adalah dorongan yang buta dan innate, yang mendorong semua makhluk hidup untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Ken Coates, seorang sejarawan yang menulis tentang sejarah antinatalisme, mendefinisikan "will" sebagai dorongan buta yang memanfaatkan segala sesuatu untuk kelangsungan hidup makhluk. Menurut Schopenhauer, "will" adalah hakikat dasar eksistensi yang menciptakan penderitaan yang melimpah.

Schopenhauer, meskipun terinspirasi oleh literatur Buddha, sebenarnya sudah memikirkan tentang penderitaan jauh sebelum ia membaca teks-teks Buddha. Ia menganggap bahwa hakikat dasar kehidupan adalah penderitaan, di mana semua makhluk hidup, termasuk manusia, melangsungkan hidup dengan mengambil kehidupan makhluk lain. Dalam konteks ini, manusia melanjutkan hidup dengan mengonsumsi hewan, yang menurut Schopenhauer, adalah penipuan diri yang menutupi immoralitas dan kejahatan.


Penderitaan Manusia dan Hewan

Schopenhauer menunjukkan bahwa manusia lebih menderita daripada hewan karena manusia memiliki konsep waktu yang mempengaruhi pengalaman penderitaan. Hewan, yang hidup sepenuhnya dalam saat ini tanpa konsep masa lalu atau masa depan, tidak mengalami kekecewaan atau kekhawatiran tentang masa depan seperti manusia.

Dia mengkritik pandangan umum yang menganggap bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan hak istimewa atas makhluk lainnya. Schopenhauer menganggap bahwa pandangan ini adalah penipuan diri. Manusia sering kali menganggap alam diciptakan untuk mereka, padahal kenyataannya adalah bahwa manusia juga bertindak dengan cara yang sama dengan hewan lain—mengambil kehidupan untuk melanjutkan eksistensi mereka.


Penderitaan vs. Kebahagiaan

Salah satu argumen utama Schopenhauer adalah bahwa penderitaan jauh melampaui kebahagiaan dalam kehidupan manusia. Ia menganggap bahwa penderitaan adalah hal yang lebih nyata dibandingkan kebahagiaan. Kebahagiaan bagi Schopenhauer hanya merupakan penghilangan penderitaan; ketika seseorang haus dan minum air, mereka merasa puas karena penderitaan akibat haus hilang. Namun, kepuasan ini sangat sementara dan cepat tergantikan oleh hasrat baru.

Schopenhauer juga berpendapat bahwa kebahagiaan dan kepuasan memiliki umur yang sangat pendek dan akan segera digantikan oleh keinginan baru. Ia menyoroti bagaimana kebosanan, sebagai lawan dari penderitaan, juga merupakan bentuk penderitaan. Contohnya, kepuasan yang didapat dari memiliki barang baru seperti iPhone atau kamera akan memudar seiring berjalannya waktu, dan kebosanan akan menggantikan rasa bahagia yang sebelumnya dirasakan.


Estetika sebagai Pelarian dari Penderitaan

Meskipun Schopenhauer percaya bahwa penderitaan adalah aspek dominan dari kehidupan manusia, ia mengakui adanya bentuk kepuasan yang dapat menawarkan pelarian sementara dari penderitaan tersebut melalui pengalaman estetika. Kepuasan estetika, seperti menikmati pemandangan matahari terbenam atau mendengarkan musik, memberikan kesempatan untuk melampaui penderitaan sehari-hari dan merasakan kedamaian serta keindahan yang tidak terikat pada dorongan dan hasrat yang biasa. Pengalaman ini, menurut Schopenhauer, memungkinkan individu untuk sejenak melupakan penderitaan mereka dan terhubung dengan dimensi yang lebih tinggi dari eksistensi.

Namun, Schopenhauer juga menekankan bahwa kepuasan estetika ini tidak dapat dinikmati oleh semua orang. Jenis kepuasan ini memerlukan bakat dan sensitivitas tertentu yang tidak dimiliki oleh setiap individu. Dalam pandangannya, hanya beberapa orang yang memiliki kapasitas untuk benar-benar menghargai keindahan dalam bentuknya yang paling murni, dan dengan demikian, pelarian dari penderitaan melalui pengalaman estetika bersifat terbatas. Ini menunjukkan bahwa meskipun kepuasan estetika bisa menjadi cara yang efektif untuk mengatasi penderitaan secara sementara, tidak semua orang memiliki akses atau kemampuan untuk mengalami jenis kepuasan ini secara mendalam.


Penderitaan dan Kebebasan

Menurut Schopenhauer, kebebasan, dalam konteks penolakan terhadap kehendak, berpotensi mengurangi penderitaan. Konsep ini berkaitan dengan ide bahwa dengan menolak dorongan dan hasrat yang tidak pernah berakhir, individu dapat mengurangi ketidakpuasan dan penderitaan yang datang dari perjuangan tanpa akhir untuk memenuhi keinginan. Dengan kata lain, kebebasan sejati dalam pandangan Schopenhauer tercapai melalui pengendalian diri dan pembebasan dari keinginan yang tiada henti, yang pada akhirnya dapat mengurangi penderitaan yang dialami.

Namun, Schopenhauer menolak tindakan bunuh diri sebagai solusi untuk penderitaan. Ia melihat bunuh diri sebagai bentuk pengabaian terhadap eksistensi, yang tidak memecahkan masalah penderitaan tetapi justru menambah dimensi baru pada penderitaan itu sendiri. Bunuh diri, menurut Schopenhauer, tidak menyelesaikan penderitaan karena tidak mengatasi akar penyebab eksistensi yang penuh penderitaan, melainkan hanya mengakhiri kehidupan tanpa memberikan solusi substantif terhadap penderitaan yang mendasarinya.


Implikasi Untuk Antinatalisme

Antinatalisme adalah pandangan filosofis yang berpendapat bahwa membawa kehidupan baru ke dunia adalah tindakan yang tidak etis atau tidak diinginkan. Pendukung antinatalisme percaya bahwa kehidupan, secara keseluruhan, cenderung lebih banyak menimbulkan penderitaan daripada kebahagiaan. Oleh karena itu, mereka menganggap bahwa tindakan terbaik adalah menghindari kelahiran anak, karena hal ini dapat mencegah individu baru mengalami penderitaan yang tak terhindarkan dalam hidup.

Pandangan ini didukung oleh berbagai alasan, termasuk pertimbangan etis, di mana para antinatalis merasa bahwa adalah salah untuk memaksakan kehidupan kepada orang lain tanpa persetujuan mereka. Selain itu, ada juga alasan lingkungan, di mana pengurangan populasi dianggap dapat mengurangi dampak negatif manusia terhadap planet ini. Meskipun kontroversial, antinatalisme memicu diskusi mendalam tentang nilai kehidupan, penderitaan, dan tanggung jawab moral dalam keputusan reproduksi.

Pandangan pesimis Schopenhauer tentang eksistensi manusia dan penderitaan memberikan argumen yang relevan untuk mendukung antinatalisme. Jika kita menerima pandangan bahwa kehidupan penuh dengan penderitaan yang tidak terhindarkan dan bahwa kebahagiaan sangat sementara, maka argumen untuk tidak membawa kehidupan baru ke dunia yang penuh penderitaan menjadi lebih kuat.

Antinatalisme, yang menganggap bahwa tidak ada keuntungan dalam membawa kehidupan baru ke dunia yang penuh penderitaan, dapat didukung oleh pandangan pesimistis Schopenhauer. Meskipun tidak mengidentifikasi diri sebagai antinatalis, pandangan Schopenhauer menawarkan perspektif penting dalam mempertimbangkan argumen ini.


Kesimpulan

Secara keseluruhan, artikel ini mengungkapkan bahwa pandangan pesimis Arthur Schopenhauer tentang kehidupan dapat memberikan perspektif berharga dalam mendukung argumen antinatalisme, yaitu keyakinan bahwa membawa kehidupan baru ke dunia yang penuh penderitaan tidak bermanfaat. Schopenhauer memandang eksistensi sebagai sumber penderitaan yang terus-menerus, di mana kebebasan sejati dapat dicapai melalui penolakan terhadap kehendak dan pengendalian diri untuk mengurangi penderitaan tersebut. 

Namun, ia menolak bunuh diri sebagai solusi, melihatnya sebagai bentuk pengabaian eksistensi yang tidak mengatasi akar masalah penderitaan. Melalui pemikiran ini, meskipun Schopenhauer tidak secara eksplisit mengklaim dirinya sebagai antinatalis, pandangannya menawarkan landasan pemikiran yang signifikan untuk mempertimbangkan antinatalisme, dengan penekanan pada pentingnya memahami penderitaan dan mengeksplorasi cara-cara untuk mengurangi dampaknya dalam kehidupan manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ringkasan Buku "Madilog" Karya Tan Malaka

Ringkasan Kitab "I La Galigo" dari Bugis Karya Sastra Terpanjang di Dunia

Ringkasan Buku "Il Principe" Karya Niccolò Machiavelli