Ringkasan Buku "Tacit and Explicit Knowledge" Karya Harry Collins

Buku "Tacit and Explicit Knowledge" - Harry Collins


Menyelami Dunia Pengetahuan Tersirat dan Eksplisit

Pengetahuan merupakan pondasi dari semua bentuk kemajuan manusia, tetapi tidak semua pengetahuan dapat dijelaskan secara lugas atau ditransfer melalui kata-kata. Dalam bukunya yang berjudul "Tacit and Explicit Knowledge", Harry Collins, seorang sosiolog sains terkemuka, mengupas secara mendalam tentang dua bentuk utama pengetahuan—yang bisa diungkap secara eksplisit, dan yang tersembunyi secara tak tersirat dalam tindakan dan konteks sosial. Buku ini menjadi penuntun penting dalam memahami bagaimana manusia belajar, berinteraksi, dan mengembangkan budaya serta teknologi.

Collins tidak hanya membedakan dua jenis pengetahuan secara sederhana, namun juga menawarkan tipologi dan analisis filosofis yang dalam. Ia mengungkapkan bahwa pemahaman tentang pengetahuan tak tersirat (tacit) sangat penting dalam konteks seperti pembelajaran, kecerdasan buatan, dan komunikasi antarmanusia. Buku ini menyuguhkan pandangan segar yang mempertanyakan anggapan lama bahwa segala pengetahuan bisa didokumentasikan atau diajarkan secara eksplisit.

Dengan membedah bagaimana pengetahuan ditransfer, dibentuk oleh kebiasaan sosial, dan dibatasi oleh bahasa serta pengalaman manusia, Collins mengajak pembaca untuk merenungi kembali pemahaman kita tentang "tahu" dan "mengerti". Buku ini tidak hanya relevan bagi akademisi, namun juga penting bagi siapa pun yang tertarik dalam bidang pendidikan, teknologi, manajemen, atau filsafat ilmu.


1. Pengantar: Apa Itu Pengetahuan Tacit dan Eksplisit?

Pada bagian pengantar, Collins menjelaskan bahwa pengetahuan eksplisit adalah jenis pengetahuan yang dapat diungkapkan melalui kata-kata atau simbol dan dapat dengan mudah ditransmisikan dari satu individu ke individu lain, seperti dalam buku, manual, atau instruksi. Sebaliknya, pengetahuan tacit adalah jenis pengetahuan yang sulit atau bahkan mustahil untuk dikomunikasikan secara eksplisit. Contohnya adalah kemampuan mengendarai sepeda atau bermain piano yang hanya bisa dipahami melalui praktik langsung.

Collins memulai dengan menyatakan bahwa perbedaan ini sudah lama dikenali, terutama sejak karya Michael Polanyi yang terkenal dengan ungkapan “kita tahu lebih banyak dari yang bisa kita katakan.” Namun, menurut Collins, pemahaman umum tentang pengetahuan tacit terlalu kabur dan sering disalahartikan. Maka, dalam buku ini, ia berusaha memperluas dan mengklasifikasikan secara sistematis jenis-jenis pengetahuan tacit untuk memberikan landasan konseptual yang lebih kokoh.

Di awal buku, Collins juga menyatakan bahwa pengetahuan bukan hanya sesuatu yang dimiliki oleh individu, tetapi juga produk dari proses sosial. Ia berargumen bahwa kita perlu memahami pengetahuan dalam konteks masyarakat, kebudayaan, dan praktik bersama, karena banyak hal yang kita “tahu” sebenarnya adalah hasil dari partisipasi dalam komunitas tertentu. Hal ini menjadi dasar penting dalam seluruh pembahasan buku selanjutnya.


2. Tiga Jenis Pengetahuan Tacit

Harry Collins memperkenalkan kerangka konseptual yang menjadi jantung buku ini, yaitu pembagian pengetahuan tacit menjadi tiga jenis: Relational Tacit Knowledge (RTK), Somatic Tacit Knowledge (STK), dan Collective Tacit Knowledge (CTK). Ketiga jenis ini menunjukkan bahwa tacitness (ketakterucapkan) memiliki bentuk dan sumber yang berbeda, dan tidak bisa disamaratakan begitu saja.

Relational Tacit Knowledge (RTK) adalah pengetahuan yang secara teoritis bisa dijelaskan, namun tidak dilakukan karena kendala praktis seperti waktu, bahasa, atau perhatian. Misalnya, seseorang bisa menjelaskan cara bermain alat musik, tetapi akan membutuhkan waktu dan konteks yang terlalu panjang untuk disampaikan seluruhnya. Jadi, pengetahuan ini bersifat tersembunyi karena batasan komunikasi, bukan karena tidak bisa diungkap.

Somatic Tacit Knowledge (STK) adalah pengetahuan yang terkait dengan tubuh—kemampuan otot, keseimbangan, persepsi, dan keterampilan yang diperoleh melalui latihan fisik. Contohnya termasuk berenang atau menggambar. Meskipun seseorang bisa memahami teori tentang cara berenang, mereka tetap tidak bisa melakukannya tanpa pengalaman tubuh langsung. Sementara itu, Collective Tacit Knowledge (CTK) merujuk pada pengetahuan yang hanya bisa dipelajari dengan menjadi bagian dari suatu kelompok atau budaya, seperti memahami humor lokal atau adat istiadat. CTK menyoroti bahwa beberapa pengetahuan hanya muncul dalam struktur sosial tertentu.


3. RTK: Pengetahuan yang Bisa Diuji Tapi Tidak Diucapkan

Relational Tacit Knowledge adalah bentuk pengetahuan yang tersembunyi hanya karena keterbatasan relasi atau media komunikasi. Dalam kondisi tertentu, RTK bisa diubah menjadi pengetahuan eksplisit. Misalnya, keterampilan membuat kopi latte yang sempurna bisa dijelaskan secara rinci, namun dalam praktiknya lebih cepat diajarkan langsung daripada dituliskan berlembar-lembar instruksi.

Collins menegaskan bahwa RTK sering kali disalahartikan sebagai STK atau CTK karena terlihat seperti tidak bisa diajarkan. Padahal, pengetahuan ini bisa saja dibagikan jika ada waktu, kemauan, dan media komunikasi yang memadai. Ini menjadi penting dalam konteks pendidikan dan manajemen pengetahuan, di mana sering kali tantangan utama bukan ketidakmampuan untuk mengungkapkan, tapi kurangnya sarana atau perhatian untuk melakukannya.

RTK menjadi sangat relevan di era digital dan teknologi tinggi, di mana dokumentasi dan sistem otomatisasi menjadi prioritas. Namun, Collins memperingatkan bahwa jika kita tidak membedakan RTK dari bentuk pengetahuan tacit lainnya, kita bisa keliru dalam menyusun strategi transfer pengetahuan. Kesalahan ini bisa berdampak serius dalam organisasi, sistem pelatihan, dan desain perangkat lunak.


4. STK: Pengetahuan yang Terletak Dalam Tubuh

Somatic Tacit Knowledge adalah bentuk pengetahuan yang melekat pada tubuh manusia. Ini mencakup keterampilan yang diperoleh melalui pengulangan, koordinasi motorik, dan ingatan tubuh. Contoh klasik adalah kemampuan menyeimbangkan tubuh saat bersepeda, yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan secara verbal. Kita mungkin tahu teorinya, namun hanya melalui latihan tubuh kita benar-benar memahami dan menguasainya.

Collins menjelaskan bahwa STK sering tidak disadari karena kita menganggapnya sebagai "naluri" atau kebiasaan. Padahal, jenis pengetahuan ini merupakan hasil dari proses pembelajaran yang kompleks dan mendalam, sering kali melibatkan berbagai sensor dan sistem motorik. STK menjadi krusial dalam bidang seperti seni, olahraga, dan teknik, di mana keahlian praktis lebih dominan dibanding pemahaman teoritis.

Ia juga menyoroti tantangan dalam mereplikasi STK pada sistem buatan seperti robot. Kecerdasan buatan mungkin mampu menjalankan instruksi eksplisit, namun belum mampu meniru fleksibilitas dan adaptasi tubuh manusia dalam konteks dinamis. Dengan demikian, STK menunjukkan batasan penting dalam otomasi dan pengembangan mesin cerdas.


5. CTK: Pengetahuan yang Berakar dari Masyarakat

Jenis terakhir, Collective Tacit Knowledge (CTK), merupakan bentuk pengetahuan yang paling dalam dan sulit ditransfer. CTK hanya bisa dipahami dengan menjadi bagian dari komunitas atau kelompok sosial tertentu. Ini mencakup aspek budaya, nilai, dan kebiasaan bersama. Contohnya adalah memahami bahasa gaul, etika profesional, atau nilai-nilai spiritual dalam suatu agama.

Collins menekankan bahwa CTK tidak bisa dipelajari secara individual melalui bacaan atau instruksi. Seseorang harus berinteraksi dan mengalami langsung praktik sosial dalam suatu lingkungan tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan bukan hanya milik individu, melainkan hasil dari partisipasi dalam jaringan sosial yang lebih luas.

CTK menjadi tantangan besar dalam konteks globalisasi, manajemen lintas budaya, atau integrasi sistem sosial dengan teknologi. Perusahaan multinasional, misalnya, sering gagal karena mengabaikan nilai-nilai CTK di masyarakat lokal. Demikian juga, teknologi yang dibangun tanpa mempertimbangkan norma-norma sosial lokal sering mengalami penolakan atau salah fungsi.


6. Implikasi terhadap Kecerdasan Buatan dan Mesin

Salah satu kontribusi penting buku ini adalah bagaimana teori tacit knowledge berdampak pada pengembangan kecerdasan buatan (AI). Collins menyatakan bahwa meskipun mesin bisa dilatih dengan data dan algoritma untuk mengimitasi perilaku manusia, mereka tidak benar-benar memiliki CTK atau STK. Mereka hanya menjalankan versi eksplisit dari tindakan manusia.

Collins menggunakan istilah "imitation game" sebagai analogi dari Turing Test untuk menjelaskan keterbatasan AI. Mesin mungkin bisa lulus tes tertentu dan membuat manusia percaya bahwa mereka "mengerti", namun dalam kenyataannya mereka hanya meniru perilaku permukaan tanpa pemahaman sosial yang mendalam. Inilah mengapa sistem AI sering gagal memahami konteks kultural, etika, atau emosi secara tepat.

Dengan demikian, Collins mendorong kita untuk berpikir ulang tentang potensi dan batasan AI. Kita harus berhati-hati agar tidak mengasumsikan bahwa kecerdasan buatan bisa menggantikan manusia dalam tugas-tugas yang sangat bergantung pada tacit knowledge. Buku ini menjadi pengingat bahwa ada bentuk pengetahuan yang tetap berada di luar jangkauan teknologi.


7. Pengetahuan Dalam Konteks Sosial dan Budaya

Collins juga menguraikan pentingnya konteks sosial dalam pembentukan dan transmisi pengetahuan. Ia berargumen bahwa pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari praktik dan nilai-nilai yang berlaku dalam suatu komunitas. Dengan kata lain, apa yang kita "ketahui" sering kali ditentukan oleh siapa kita, di mana kita tinggal, dan dengan siapa kita berinteraksi.

Dalam masyarakat, proses belajar bukan hanya tentang menerima informasi, tetapi tentang menjadi bagian dari budaya belajar itu sendiri. Misalnya, seorang calon tukang kayu tidak hanya belajar mengukur dan memotong, tetapi juga belajar tentang etika kerja, tanggung jawab, dan rasa estetika dari tukang kayu lain. Ini merupakan contoh nyata bagaimana CTK bekerja dalam dunia nyata.

Kesadaran akan dimensi sosial dari pengetahuan ini sangat penting dalam pendidikan, pelatihan kerja, hingga kebijakan publik. Collins menyarankan agar pendekatan belajar tidak hanya fokus pada materi eksplisit, tetapi juga memberi ruang bagi pengalaman, dialog, dan keterlibatan dalam komunitas. Hanya dengan begitu pengetahuan dapat benar-benar dimiliki.


8. Menimbang Kembali Konsep “Transfer Pengetahuan”

Di bagian akhir bukunya, Collins mengajak kita untuk berpikir ulang tentang istilah “transfer pengetahuan”. Banyak organisasi atau institusi yang terobsesi dengan cara menyalurkan pengetahuan dari ahli ke pemula, namun gagal memahami bahwa tidak semua pengetahuan bisa ditransfer seperti mengirim dokumen. Tacit knowledge menantang gagasan ini secara fundamental.

Pengetahuan tidak seperti barang yang bisa dipindahkan dari satu kepala ke kepala lain. Dalam banyak kasus, proses belajar melibatkan imitasi, pengalaman langsung, serta kepekaan terhadap konteks sosial dan budaya. Maka, dalam banyak situasi, pendekatan terbaik untuk transfer pengetahuan adalah dengan menciptakan ruang untuk kolaborasi, pembimbingan, dan keterlibatan langsung.

Collins menegaskan bahwa menyadari adanya berbagai jenis pengetahuan tacit akan membantu kita menyusun strategi pembelajaran, manajemen, dan inovasi yang lebih efektif. Dalam dunia yang semakin kompleks, memahami batasan pengetahuan eksplisit dan peran vital pengetahuan tacit adalah kunci untuk bertahan dan berkembang.


Penutup: Menuju Pemahaman Pengetahuan yang Lebih Komprehensif

Melalui "Tacit and Explicit Knowledge", Harry Collins berhasil membawa pembaca ke dalam pemahaman yang lebih mendalam tentang cara manusia mengetahui dan berbagi pengetahuan. Dengan membedakan tiga jenis pengetahuan tacit—relasional, somatik, dan kolektif—ia menunjukkan bahwa banyak aspek dari pengetahuan tidak bisa direduksi menjadi kata-kata atau instruksi tertulis. Hal ini menjadi pengingat bahwa pemahaman sejati tidak hanya soal logika, tapi juga soal pengalaman, interaksi, dan keberadaan sosial.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, otomatisasi, dan pendidikan daring, buku ini memberikan peringatan yang bijak: tidak semua pengetahuan bisa didigitalkan atau diajarkan melalui layar. Kita perlu menghargai aspek manusiawi dalam proses belajar dan berpengetahuan, termasuk ketidakterucapannya. Hal ini tidak hanya penting untuk menjaga keberagaman budaya dan nilai-nilai sosial, tetapi juga agar kita tidak terjebak dalam kesombongan teknologis yang melupakan batas-batas realitas.

Akhirnya, "Tacit and Explicit Knowledge" bukan hanya buku akademik, tetapi juga refleksi filosofis yang mendalam tentang kondisi manusia. Pengetahuan, sebagaimana ditunjukkan Harry Collins, adalah sesuatu yang hidup, terbentuk dari hubungan dan praktik, serta tidak selalu bisa dimasukkan dalam kotak definisi. Dengan menyadari hal ini, kita bisa menjadi pembelajar, pendidik, dan pencipta yang lebih bijak dan manusiawi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ringkasan Buku "Madilog" Karya Tan Malaka

Ringkasan Kitab "I La Galigo" dari Bugis Karya Sastra Terpanjang di Dunia

Ringkasan Buku "Il Principe" Karya Niccolò Machiavelli